top of page
Search

Perkembangan Urbanisasi dan Integrasi Teknologi: Sekilas tentang Smart City

Seiring berjalannya waktu, kota akan terus tumbuh dan berkembang. Begitupula dengan jumlah penduduk di dalamnya. Pertumbuhan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk alami dari dalam kota saja, melainkan juga diakibatkan oleh urbanisasi yang selalu meningkat secara eksponensial tiap tahunnya. Berdasarkan data statistik UN Habitat (2018), sebanyak 55% penduduk dunia kini menetap di area perkotaan, dan diperkirakan sebesar 70% penduduk dunia akan menetap di area perkotaan pada tahun 2050.


Urbanisasi tersebut tentunya akan diiringi dengan peningkatan standar harapan hidup dan juga mengakibatkan berbagai perubahan ekonomi, sosial, dan lingkungan sehingga menyebabkan berbagai masalah, tantangan, dan kesempatan baru. Berdasarkan Mohanty dkk (2016), perkotaan sekarang ini sudah mengonsumsi sebesar 75% dari sumber daya dan energi dunia yang menyebabkan produksi emisi gas rumah kaca sebesar 80%. Tidak hanya itu, urbanisasi juga menyebabkan beberapa persoalan seperti permasalahan perumahan, polusi, masalah lingkungan, kemacetan, kriminalitas, dan kemacetan (Wadhwa, 2015). Namun disisi lain, urbanisasi juga membawa potensi untuk meningkatkan produktivitas dan ekonomi perkotaan (West, 2018). Mengingat kecenderungan kapasitas kota sulit untuk ditingkatkan, ditambah lagi dengan ketersediaan ruang beserta sumber daya yang terbatas, tentunya diperlukan perencanaan manajemen yang optimal dan efisien dalam mengelola sumber daya dan energi beserta dengan berbagai komponen perkotaan yang ada, sekaligus tetap mampu memanfaatkan berbagai kesempatan yang muncul. Apabila keseluruhan hal tersebut tidak dikelola dengan baik, tentunya urbanisasi ini akan lebih banyak memberikan dampak negatif kepada perkotaan.


Di samping pertumbuhan dan perkembangan perkotaan, ICT (Information and Communication Technologies) atau yang juga dikenal dengan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) juga semakin berkembang. Perkembangan teknologi yang pesat tersebut dapat tergambarkan dari data yang dipaparkan oleh Wadhwa (2015), dimana diperkirakan perorangan di dunia akan terkoneksi dengan perangkat teknologi sebesar 6.58 poin, sedangkan dahulunya pada tahun 2003, perorangan di dunia yang terkoneksi dengan perangkat teknologi hanya sebesar 0.08 poin.


Di era yang serba digital ini, evolusi inovasi teknologi yang sudah menjadi fenomena mendasar dalam perkembangan dunia tentunya tidak hanya berdampak pada interkoneksi di dalam komponen-komponen perkotaan, melainkan juga menghubungkan perkotaan dengan komponen-komponen eksternalnya. Konektivitas yang terbentuk tersebut akan menambah peluang dan juga kesempatan untuk perkotaan itu sendiri. Selain itu, teknologi juga semakin mendampingi penyediaan pelayanan dasar serta terintegrasi dengan sarana-prasarana perkotaan, sehingga meningkatkan kapasitas dan kemampuan baik pelayanan maupun sarana-prasarana yang ada untuk memenuhi kebutuhan perkotaan.


Dengan berbagai peluang dan manfaat yang dibawa oleh teknologi, diharapkan hal tersebut dapat mengimbangi berbagai tuntutan perkotaan (Sutriadi, 2015), yang didalamnya meliputi tuntutan untuk memenuhi tujuan pembangunan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dan juga untuk menanggulangi serta mengurangi permasalahan yang ditimbulkan oleh urbanisasi. Maka dari itu, diperlukan tata kelola yang cerdas dalam memanfaatkan dan juga mengakomodasikan teknologi ke dalam sistem perkotaan.


Di sini, konsep smart city hadir sebagai salah suatu model perencanaan kota yang mendesak kota-kota untuk menjadi lebih cerdas dalam menangani urbanisasi dan menemukan cara-cara serta berbagai inovasi baru untuk mengelola kompleksitas, meningkatkan efisiensi, mengurangi pembiayaan, dan juga meningkatkan kualitas hidup dengan mengintegrasikan pemanfaatan teknologi ke dalam sistem perkotaan (Wadhwa, 2015).



***



Sekilas tentang Smart City


Pemaknaan smart city seringkali dikaitkan dengan pembangunan kota berbasis teknologi. Hal tersebut tidaklah salah, hanya saja tidak tepat dalam memaknakan smart city sebagai suatu model perencanaan kota. Hingga saat ini, belum benar-benar ada definisi yang konkrit dan pasti mengenai smart city itu sendiri. Hal tersebut disebabkan konsep smart city yang berkaitan erat dengan perkembangan TIK, dimana TIK itu sendiri akan terus berkembang secara dinamis seiring berjalannya waktu. Perkembangan teknologi yang dinamis tersebut tentunya akan menggeser pemaknaan konsep smart city dari waktu ke waktu. Tidak hanya itu, pemaknaan yang berbeda-beda dari konsep smart city juga dikarenakan kondisi dan ciri-ciri perkotaan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya, dan juga perkembangan dinamis yang terjadi di negara-negara tidak ada yang setara.


Mohanty dkk (2016) menyertakan definisi formal smart city di dalam jurnal sebagai kota yang menghubungkan infrastruktur fisik dengan teknologi informasi, infrastruktur sosial, dan infrastruktur bisnis untuk memanfaatkan kecerdasan kolektif dari kota. Tidak hanya itu, ia juga menambahkan definisi formal lainnya, dimana smart city didefinisikan sebagai kota inovatif yang menggunakan TIK dan sarana lain untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan efisiensi dari operasi pelayanan perkotaan serta daya saing di dalamnya, dengan memastikan hal-hal tersebut mampu memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Djonoputro (di dalam Sutriadi, 2015) sebagai ketua IAP (Ikatan Ahli Perencana) Pusat mendefinisikan smart sebagai “optimasi sumber daya dalam konteks pembangunan berkelanjutan, memilih warna ataupun corak metode ataupun pendekatan perencanaan inovatif yang proporsional dan dapat menggugah para pemangku kepentingan secara inklusif untuk secara bersama-sama berperan serta dalam proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pembangunan”, sedangkan beliau mendefinisikan city sebagai “representasi ruang sebagai pusat pertumbuhan bercirikan keragaman aktivitas, kepadatan penduduk, serta kompleksitas tata kelolanya”, sehingga smart city disini menekankan untuk membuat sistem perencanaan tata ruang yang dinamik, inovatif, dan berkelanjutan. Adapun Sutriadi (2015) menyimpulkan dari berbagai pemaknaan smart city yang telah dikaji oleh beliau, bahwa konsep-konsep smart city yang beredar menitikberatkan pembahasannya terhadap: inovasi, ekonomi, daya saing, dan nilai tambah pada tataran global; titik berat kepada pengembangan teknologi dan TIK; perhatian terhadap para pemangku pembangunan; serta perlunya proses menuju suatu kota cerdas.


Pemaknaan yang berbeda-beda tersebut dipengaruhi oleh kondisi perkotaan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya, dan juga akibat dari perkembangan TIK yang dinamis dan tidak merata di berbagai negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan dari berbagai pemaknaan tersebut adalah smart city merupakan suatu model perencanaan kota yang mengedepankan tata kelola kota yang cerdas dan inovatif sehingga mampu merumuskan berbagai terobosan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dengan melalui aplikasi TIK serta pemanfaatan sumber daya kota yang terbina, serta terintegrasi secara sistemik dengan aspek-aspek perkotaan.




references

  • Gubernur Provinsi DKI Jakarta. 2014. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 280 Tahun 2014 tentang Pembentukan, Organisasi, dan Tata Kerja Unit Pengelola Jakarta Smart City. Republik Indonesia: DKI Jakarta.

  • Kompas. 2014. Seperti Apa Cara Kerja “Jakarta Smart City”?. Diakses pada https://mega politan.kompas.com/read/2014/12/16/08245031/Seperti.Apa.Cara.Kerja.Jakarta.Smart.City.

  • Lail, Lutfianah. 2017. Implementasi Kebijakan Smart City di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Universitas Brawijaya: Malang.

  • Mohanty, Saraju P. et al. 2016. Everything You Wanted to Know About Smart Cities.

  • Sutriadi, Ridwan. 2015. Perspektif Perencana: Smart City Inovasi, Kota Komunikatif, dan Kota Berkeadilan. Inside Publisher: Bandung.

  • United Nation. 2018. 68% of The World Population Projected to Live in Urban Areas by 2050, says UN. Diakses pada https://www.un.org/development/desa/en/news/population/2018-revision-of-world-urbanization-prospects.html

  • Wadhwa, Manick. 2015. Understanding the Impact of Smart Cities and The Need for Smart Regulation.

 
 
 

Comments


bottom of page