top of page
Search

Global Waste Trade: Perdagangan Sampah Antar Negara Yang Berdampak Buruk Bagi Lingkungan & Ekosistem




Global Waste Trade adalah kegiatan perdagangan limbah antar negara yang ditujukan untuk pengolahan, pembuangan, atau daur ulang lebih lanjut. Setiap tahunnya, ribuan kontainer berisikan limbah daur ulang diekspor oleh negara maju ke negara berkembang. Hal ini terjadi karena biaya pengiriman sampah ke negara berkembang jauh lebih murah daripada biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun infrastruktur daur ulang sampah yang memadai (Tiseo, 2022). Dengan kata lain, negara-negara maju membayar negara-negara berkembang untuk mengelola permasalahan sampah atau limbah yang dihasilkan negara mereka. Bisnis ekspor-impor sampah berskala internasional ini dianggap menguntungkan bagi negara peng-ekspor dan juga peng-impor sampah. Selain mengurangi penimbunan sampah di negara maju, pendapatan dari kegiatan impor limbah juga menambah pendapatan negara berkembang.

Namun, pada kenyataanya, alih-alih menyelesaikan masalah, negara-negara importir sampah cenderung memperparah permasalahan lingkungan di negara mereka sendiri. Sampah yang telah sampai ke negara tujuan tidak dilacak lagi oleh pengirim dan umumnya tidak ditangani dengan baik oleh negara penerima. Sebagian sampah tersebut dibuang secara ilegal,dikubur, atau dibakar jika negara importir tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk mengelola limbah.

Dilansir dari lama breakfromplastic.org , sejak tahun 1988, terdapat sekitar seperempat milyar ton limbah plastik yang diekspor ke berbagai penjuru dunia. Selama bertahun-tahun, negara Cina merupakan tujuan utama pembuangan limbah plastik dari negara-negara industri maju seperti Amerika, Eropa, Australia, dan Jepang. Pada tahun 2018, kebijakan perdagangan internasional negara Cina mengumumkan bahwa mereka tidak akan meneruskan kegiatan ekspor-impor limbah plastik. Sehingga, perdagangan limbah plastik dialihkan ke negara-negara berkembang di Asia Tenggara.

Limbah yang boleh diekspor umumnya adalah limbah yang bersifat daur ulang. Akan tetapi, tidak sedikit negara maju acuh dengan peraturan dan mengirim limbah berbahaya seperti limbah elektronik (e-waste). Jenis limbah tersebut jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Di luar dampak buruk limbah pada lingkungan yang parah akibat kerusakan ekosistem laut, degradasi tanah, dan polusi udara, ada juga masalah sosial-politik yang muncul dari perdagangan limbah global; Masalah-masalah ini secara tidak langsung mempengaruhi manusia, alam, dan organisme yang hidup di negara-negara importir limbah. Beberapa kasus yang timbul karena kegiatan perdagangan limbah dikutip dari laman peopledispatch.org oleh (Varkey, 2019) yaitu;


  1. Pertikaian Filipina dan Kanada

Pada tanggal 23 April, Presiden Filipina mengancam akan mendeklarasikan perang dengan Kanada jika negara tersebut tidak menarik kembali limbah yang dikirim ke Manila selama tahun 2013-2014. Filipina menolak keras limbah kiriman dari Kanada karena limbah tersebut diberi label ‘Plastik daur ulang’ namun berisikan limbah rumah tangga dan limbah elektronik. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, memberi waktu satu minggu untuk penarikan limbah dari negara-nya dan mengancam akan mengembalikan secara paksa jika limbah tersebut tidak segera ditarik oleh pihak Kanada sampai batas waktu yang telah ditentukan. Negara Kanada mengirim limbah yang sama ke Pakistan dan Hong Kong. Akan tetapi, keberanian dan ketegasan negara Filipina, membuka mata dunia bahwa masih ada negara yang tak acuh dengan peraturan dalam perdagangan limbah yang telah ditetapkan.


  1. Pembuangan Limbah ke Laut Lepas.

Dikutip dari laman PeopleDispatch.org, asosiasi lingkungan L'ambiente, melaporkan bahwa ada 600.000 ton limbah radioaktif di dasar laut di lepas pantai Sahara Barat. Kenyataanya, insiden pembuangan limbah di laut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Kasus Laut Cina yang terkenal pada 1986 adalah contoh lain, di mana dari 14.000 ton abu hasil pembakaran limbah dibuang di laut lepas Haiti setelah diberi label "pupuk tanah" dan sisanya sekitar 4.000 ton abu sisa pembakaran limbah dibuang di Samudra Atlantik dan Samudra Hindia.


  1. Kebocoran Timah di Lagos, Nigeria

Limbah elektronik yang tidak dihancurkan biasanya dikubur di tanah agar mengurangi penumpukan limbah di permukaan. Warga Nigeria tidak menyadari bahwa limbah yang dikubur mengandung timah yang dapat sewaktu-waktu bocor dan merusak lingkungan. Di Nigeria, kebocoran timah dari limbah elektronik merembes ke tanah dan bercampur dengan sumber air yang disediakan untuk warga lokal. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) melaporkan adanya permasalahan kesehatan yang diakibatkan konsumsi sumber air yang tercemar, seperti tingkat disfungsi tiroid yang lebih tinggi pada wanita dan kerusakan permanen pada sistem saraf pusat anak-anak.


  1. Tingkat Kematian Pekerja yang Tinggi

Ship Breaking merupakan kegiatan penghancuran limbah kapal atau perusakan kapal yang sudah tidak layak pakai untuk diambil suku cadang dan material layak jual. Armada pemecah kapal Chittagong, Bangladesh mempekerjakan sekitar 200.000 orang tanpa peraturan yang jelas mengenai prosedur kerja dan regulasi keselamatan kerja. Para pekerja memecahkan kapal untuk mengambil sampah besi tua, untuk dijual seharga USD 1,5 per hari, dengan ancaman risiko keracunan zat berbahaya atau jatuh dari ketinggian kapal tanpa perlengkapan yang memadai. Menurut kelompok pengawas lokal Youth Power in Social Action, rata-rata satu pekerja meninggal setiap minggunya.


Permasalahan yang terjadi diatas hanya beberapa dari banyaknya dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan perdagangan limbah antar negara. Kegiatan perdagangan limbah antar negara (Global Waste Trade) sejatinya adala dua sisi koin yang memilikidampak tindakan penjajahan di era modern. Negara Industri maju menggunakan kekuasaannya untuk mengirim barang-barang yang tidak mereka inginkan ke negara-negara berkembang. Negara-negara kolonial seperti AS perlu mengakhiri ketergantungan mereka yang mendominasi negara-negara berkembang untuk mengelola limbah hasil negara mereka. Kendati demikian, ada banyak gerakan perubahan yang berkembang di seluruh dunia. Kita bisa mendukung gerakan perubahan di negara masing-masing mulai dari tindakan kecil di masyarakat lokal hingga nantinya dapat memberikan perubahan pada kebijakan pemerintah yang seharusnya mempertimbangkan kesehatan lingkungan dan ekosistem di negara masing-masing.


Referensi:


George, M. (2021, November 14). Global Waste Trade and its Effects on Landfills in Developing Countries - Global Waste Cleaning Network. Gwcn Web. <https://www.gwcnweb.org/2021/11/14/global-waste-trade-and-its-effects-on-landfills-in-developing-countries/>


Madapoosi, V. (2020, December 5). Modern-Day Imperialism in the Global Waste Trade — Intersectional Environmentalist. Intersectionalenvironmentalist. <https://www.intersectionalenvironmentalist.com/toolkits/global-waste-trade-toolkit>


Varkey, (2019, May 13). The Global Waste Trade : Peoples Dispatch. Peoplesdispatch. <https://peoplesdispatch.org/2019/05/13/the-global-waste-trade/>


Tiseo, I. (2022, June 21). Waste trade worldwide - Statistics & Facts | Statista. Statista. <https://www.statista.com/topics/7943/global-waste-trade/>


 
 
 

Comments


bottom of page